Bersikap Pertengahan Dalam Cinta dan Benci
Diriwayatkan dari Aslam al-Adawi, "Umar bin Khaththab berkata kepadaku, "Wahai Aslam, jangan sampai cintamu dipaksakan dan jangan sampai bencimu membinasakan."
"Bagaimana caranya?" Tanyaku.
"Jika kau mencintai seseorang, jangan sampai kau memaksakan diri seperti anak kecil yang memaksakan diri demi sesuai yang diinginkan. Dan jika kau membenci seseorang, jangan sampai membuatmu menginginkan orang yang kau benci binasa dan mati."
(Diriwayatkan Abdurrazaq dalam al-Mushannaf (XI/181), al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no 1322), dan Ibnu Jarir ath-Thabari dalam Tahdzibul Atsar (I/223-224).)
Artinya, jika engkau mencintai seseorang, jangan berlebihan seperti wanita dan anak kecil yang memaksakan diri ketika menginginkan sesuatu. Demikian pula di saat kau membenci seseorang, jangan berlebihan hingga menginginkan orang yang kau benci binasa dan mati.
Diriwayatkan dari Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib, "Cintailah kekasihmu seperlunya, bisa jadi dia akan membencimu suatu hari nanti. Bencilah orang yang kau benci seperlunya saja, bisa jadi dia menjadi kekasihmu suatu hari nanti."
(Diriwayatkan secara mauquf dan marfu". Diriwayatkan al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no 1321) dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf (XIV/102).)
(Silsilah al atsar ash sahihah aw ash shahih al Musnad min aqwalis shahabah wat tabi"in)
Follow
✏twitter: @fajarardhys
📙channel telegram: @tetaplurus , @muhammadiyah
📚blog: http://tetaplurus.blogspot.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar