#Wahabi adalah Golongan Musyabbihah dan Mujassimah??
Oleh Ust. Abul-Jauzaa
****
Tanya : Saya sering membaca beberapa tulisan berikut perkataan beberapa
orang yang mengatakan Wahabi itu adalah golongan musyabihah dan
mujasimah. Sesat. Itu dikarenakan mereka menyamakan Allah dengan
makhluk-Nya. Sebagai orang Wahabi, menurut Anda apakah semua hal itu
benar?
-
Jawab : Perkataan-perkataan semacam itu memang banyak
dituliskan dan diucapkan oleh orang yang anti terhadap dakwah tauhid
yang dibawa oleh Asy-Syaikh Muhammad bin ‘Abdil-Wahhaab rahimahumallah
sehingga mereka menyebutnya ‘Wahabi’. Bahkan era sebelum itu, yaitu
untuk Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul-Qayyim rahimahumallah,
mereka juga dituduh sebagai Wahabi. Ini kan namanya tuduhan yang membabi
buta.
-
‘Aqidah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dalam sifat-sifat
Allah ta’ala adalah beriman kepada sifat-sifat-Nya sebagaimana yang
terdapat dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya Muhammad
shallallaahu ‘alaihi wa sallam tanpa tahrif, ta’thil, takyif, dan
tasybih/tamtsil, serta mengimani bahwa Allah itu tidak serupa dengan
sesuatu apapun. Tanpa tahriif artinya tanpa menyelewengkannya dari makna
yang benar. Tanpa ta'thiil artinya tanpa meniadakan/mengingkarinya
(sifat-sifat Allah), baik sebagian atau seluruhnya. Tanpa takyiif
artinya tanpa menanyakan bagaimana hakekat sebenarnya dari sifat Allah.
Tanpa tamtsiil/tasybiih artinya tanpa menyamakan sifat-sifat Allah
ta'ala dengan sifat-sifat makhluk-Nya.
-
Asy-Syaikh Muhammad bin 'Abdil-Wahhaab rahimahumallah berkata:
"Sesuatu yang kami yakini dan kami beragama kepada Allah dengannya
adalah madzhab salaful-ummah dan para imamnya dari kalangan shahabat,
taabi'iin, dan yang mengikuti mereka dengan baik dari imam yang empat
dan para pengikutinya radliyallaahu 'anhum.
Yaitu, beriman kepada
ayat-ayat dan hadits-hadits sifat, mengakuinya, membiarkannya
sebagaimana datangnya, tanpa tasybiih, tamtsiil, dan ta'thiil. Allah
ta'ala berfirman : 'Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas
kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang
mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya
itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu
seburuk-buruk tempat kembali' (QS. An-Nisaa' : 115)" [Asy-Syaikh
Muhammad bin 'Abdil-Wahhaabm 'Aqiidatuhu As-Salafiyyah wa Da'watuhu
Al-Ishlaahiyyah oleh Ahmad bin Hajar Aalu Buuthaamiy, hal. 51].
-
Inilah 'aqidah yang Anda sebut 'aqiidah 'Wahabi'. Lantas, dimanakah
gambaran tasybiih dari beliau rahimahullah ". Bagaimana bisa dikatakan
musaybbih sedangkan beliau sendiri mengingkari tasybiih ?. Seandainya
ada orang yang menuduh beliau rahimahullah penganut paham musyabbihah
(menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) hanya dikarenakan menetapkan
sifat-sifat Allah sebagaimana yang ada dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah
sebagaimana dhahirnya, maka Allah ta'ala berfirman:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
"Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat" [QS. Asy-Syuuraa : 11].
-
Dalam ayat di atas Allah ta'ala telah menetapkan bagi diri-Nya sifat
mendengar dan melihat, namun Allah pun berfirman bahwa Ia berbeda dengan
makhluk-Nya. Artinya, Allah ta'ala mempunyai sifat mendengar dan
melihat, namun kedua sifat tersebut berbeda dengan makhluk-Nya; karena
sifat-sifat Allah mengandung kesempurnaan tanpa ada aib, cacat, atau
kekurangan. Begitu juga dengan sifat-sifat Allah ta'ala yang lain
seperti pengasih, penyayang, mencintai, marah, gembira, mempunyai
tangan, mempunyai mata, dan yang lainnya yang disebutkan dalam
nash-nash.
-
Allah ta’ala berfirman:
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ أَسْتَكْبَرْتَ أَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَالِينَ
"Allah berfirman: "Hai iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada
yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu
menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) termasuk orang-orang yang
(lebih) tinggi?" [QS. Shaad : 75].
-
Ayat tersebut sebagai dalil
bahwa Allah ta'ala mempunyai tangan dalam makna yang sebenarnya,
sedangkan tangan-Nya berbeda dengan tangan makhluk. Tangan dalam ayat
tersebut bukan diartikan dengan kekuasaan atau kekuatan.
-
Hal ini sebagaimana yang dipahami kaum salaf, diantaranya 'Abdullah bin 'Umar radliyallaahu 'anhumaa:
خَلَقَ اللَّهُ أَرْبَعَةَ أَشْيَاءَ بِيَدِهِ: الْعَرْشُ، وَالْقَلَمُ،
وَعَدْنٌ، وَآدَمُ، ثُمَّ قَالَ لِسَائِرِ الْخَلْقِ: كُنْ فَكَانَ
“Allah menciptakan empat hal dengan tangan-Nya : Al-‘Arsy, Al-Qalam
(pena), (surga) Al-‘Adn, dan Aadam. Kemudian Allah berfirman kepada
seluruh makhluk : ‘Jadilah’, maka jadilah ia” [Diriwayatkan oleh
Ad-Daarimiy dalam Naqdud-Daarimiy ‘alaa Bisyr Al-Maarisiy no. 44 &
112, Al-Haakim 2/319, Al-Baihaqiy dalam Al-Asmaa’ wash-Shifaat 2/126 no.
693, Al-Aajurriy dalam Asy-Syarii’ah 2/130 no. 801, Abusy-Syaikh dalam
Al-‘Adhamah 2/578-579 no. 213 & 5/1555-1556 no. 1018, dan
l-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad no. 729]; shahih.
-
Hanya saja mungkin sebagian orang salah paham bahwa dengan adanya
penetapan sifat-sifat seperti itu dianggap sebagai tasybiih dan orangnya
dicap musyabbihah. Jelas, ini kekeliruan fatal dan menunjukkan
kebodohan mereka akan makna tasybiih tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar